sahabat seaqidah ila Jannah...

Monday, July 5, 2010

» Mencintai sebelum menikah - Belajar dari Kisah Ali dan Fathimah.


Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.

Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!

Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.

Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.

Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan membelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..

Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak.

Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab.
Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.
’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani.
’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?

Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?
Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?
Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.

Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.
Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.
Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,

“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,

dalam suatu riwayat dikisahkan

bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)

Fathimah berkata kepada ‘Ali,

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”


~yang salah dari pacaran itu bukan perasaannya, melainkan jalan yang kita pilih, untuk mempertanggungjawabkan perasaan tsb lah, yang tidak bijak...~

semoga istiqomah, ini memang tidak mudah..


Baarakallaahufiikum....


Source : Jalan cinta para pejuang Salim . A.fillah
Sirah Shahabat & Shahabiyah

Saturday, July 3, 2010

::: Berkat Air Wudhuk :::


BAGAIMANA SOLAT KT? BERMULANYA KHUSYUK DARI WUDHUK KITA LAGI...........
Tahukah teman-teman, salah satu syarat sah solat ialah mengambil wudhuk. Berikut adalah cara-cara mengambil wudhuk yang sempurna, dengan wudhuk yang sempurna InsyaAllah kita akan mendapat kekhusyukan dalam sembahyang:

1. Ketika berkumur, berniatlah kamu dengan; “Ya Allah, ampunilah dosa mulut dan lidahku ini.”
2. Ketika membasuh muka, berniatlah kamu dengan; “Ya Allah, putihkanlah mukaku di akhirat kelak, janganlah Kau hitamkan mukaku ini.”
3. Ketika membasuh tangan kanan, berniatlah kamu dengan; “Ya Allah, berikanlah hisab-hisabku di tangan kananku ini.”
4. Ketika membasuh tangan kiri, berniatlah kamu dengan; “Ya Allah, janganlah Kau berikan hisab-hisabku di tangan kiriku ini.”
5. Ketika membasuh kepala, berniatlah kamu dengan; “Ya Allah, lindungilah daku dari terik matahari di Padang Mahsyar dengan Arasy-Mu.”
6. Ketika membasuh telinga, berniatlah kamu dengan; “Ya Allah, ampunilah dosa telingaku ini.”
7. Ketika membasuh kaki kanan, berniatlah kamu dengan; “Ya Allah, permudahkanlah aku melintasi titian Siratul Mustaqqim.”
8. Ketika membasuh kaki kiri, berniatlah kamu dengan; “Ya Allah, bawakanlah daku pergi ke masjid-masjid, surau-surau dan bukan tempat-tempat maksiat.”

Hal ini kerana perlu untuk kita amalkan kerana......

1. Kita hari-hari bercakap benda-benda yang tak berfaedah.

2. Ahli syurga mukanya putih berseri-seri.

3. Ahli syurga diberikan hisab-hisabnya di tangan kanan.

4. Ahli neraka diberikan hisab-hisabnya di tangan kiri.

5. Panas di Padang Mahsyar macam matahari sejengkal di atas kepala.

6. Hari-hari mendengar orang mengumpat, memfitnah dan lain-lain.

7. Ahli syurga melintasi titian dengan pantas sekali.

8. Qada’ dan Qadar kita di tangan Allah.



Ramai di antara kita yang tidak sedar akan hakikat bahawa setiap yang dituntut dalam Islam mempunyai hikmahnya yang tersendiri. Pernahkah kita terfikir mengapa kita mengambil wudhuk sedemikian rupa? Pernahkah kita terfikir segala hikmah yang kita perolehi dalam menghayati Islam? Pernahkah kita terfikir mengapa Allah lahirkan kita sebagai umat Islam? Bersyukurlah dan bertaubatlah selalu...sama2 kita tingkatkan mujahadatun nafs dan sentiasa beramal dengan ajaran Islam yang sebenar benarnya tanpa memilih yang kita hendak sahaja. Nauzubillahi minzalik.. Allahua'lam..


Friday, July 2, 2010

"What's yours?"


Lirik ''Mana Milik Kita'-Nada Murni-Rabbani

Mana milik kita
Tidak ada milik kita
Semua yang ada
Allah yang punya
Tidak ada kita punya
Kita hanya mengusahakan saja
Apa yang kita dapat
Allah sudah sediakannya
Kita Allah punya
Bumi langit ciptaanNya
Miliklah apa saja
Tidak terlepas dari ciptaanNya
Mana kita punya
Tidak ada kepunyaan kita
Kita hanya mengusahakan
Apa yang telah ada
Mana milik kita
Tidak ada milik kita
Semua yang ada
Allah yang punya
Tidak ada kita punya
Kita hanya mengusahakan saja
Apa yang kita dapat
Allah sudah sediakannya
Mengapa kita sombong
Memilik Allah punya
Mengapa tidak malu
Kepada Allah yang empunya
Patut bersyukur kepada Allah
Yang memberi segalanya
Malulah kepada Allah
Kerana milik Ia punya
Janganlah berbangga
Apa yang ada pada kita
Kalau Allah tidak beri
Kita tidak punya apa-apa
Janganlah mengungkit
Mengungkit jasa kita
Jasa kita di sisiNya
Yang sebenarnya Allah punya
Marilah kita bersyukur
Bukan berbangga
Bersyukur kepada Allah
Bukan mengungkit jasa
Gunakanlah nikmat Allah itu
Untuk khidmat kepadanya
Selepas itu lupakan saja
Agar tidak mengungkit-ungkitnya
Mana milik kita
Tidak milik kita
Semua yang ada
Allah yang punya
Tidak ada kita punya
Kita hanya mengusahakan saja
Apa yang kita dapat
Allah sudah sediakannya…



P/S seorang ustaz:

*^*) Andai kita menerima pujian atau sebarang perkara yang bisa mendatangkan anasir bangga akan diri, ucaplah...."MasyaAllah, La haula wala Quwwata ILLA Billahil Aliyyul Azim.."
*^*) Lazimkan lidah,hati dan tubuh badan kita selama-lamanya dengan zikrullah...moga pengakhiran nyawa kita nanti juga menyebut nama Allahu Allah..dgn melazimi zikrullah, lintasan lintasan akal dan perasaan kita juga akan ditapis dan diperingatkan Allah kepada perkara yang tidak dimurkaiNya.
*^*) Letakkan pergantungan harap kita hanya pada Allah kerana "Mana Milik Kita? Semua Allah punya.........."Jasad ini punya Dia, Dia Maha Tahu akan segalanya. Kita merancang, namun Allah adalah SEBAIK BAIK perancang..

Allahua'lam...

Thursday, May 27, 2010

*From Her Deep Soul*



Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi MAha Mengasihani...Allahumma Soli Ala Saiyidina Muhammad wa ala ali Saiyidina Muhammad...sekadar sedikit muhasabah yang ingin ana coretkan di sini. Allah Ya Rabbi,moga Kau memberi manfaat buat hamba dan semua pembaca pembaca amin ya Allah.

POINT NUMBER ONE~

Firman Allah SWT bermaksud:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang soleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri.” (Surah Fussilat :33)

Kadangkala, seorang daie sangat bersemangat untuk menyampaikan ilmu yang diibarat, setitis daripada selautan ilmuMu. Tidak bijak berhujah, namun melalui medan yang terdaya dek diri. Adakah semua itu diluruskan niatnya tanpa sekelumit pun hawa nafsu jahat berbau? Jauhkan kami dari perkara yang boleh mengurangkan amal kami Ya Allah...untuk itu,sama2 ayuh sahabat sahabiah dai'e dai'e sekalian kita timba 'ilmu yang bermanfaat'. Dan menurut Hujjatul Islam Imam Al- Ghazali, antara ciri ciri ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang menambah pengetahuan kita akan perkara yang mengurangkan keberkatan atau pahala amal yang kita lakukan. Sekali lagi, suka ana menyeru unutuk kita mempelajar dan mendidik diiri dengan jiwa suci demi melahir amal yang diberkahi Illahi.

POINT ke DUA~

Firman Allah SWT bermaksud:

"Wahai orang2 yang beriman masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan..."
(surah Al-Baqarah :28)

Amatlah penting untuk kita mempraktikkan ajaran dan syariat Islam secara syumul. Kerana sesungguhnya Islam itu addin yang menyeluruh..MasyaAllah. Teringat kata kata seorang ustaz yang memperkenalkanku tentang ilmu tasawuf, Ustaz Shafe, bahawa amatlah penting untuk kita melakukan seboleh bolehnya dan semesti mestinya segala yang Allah SWT suruh dan tinggal apa yang dilarang, bukan bila sudah banyak buat baik bolehlah buat sedikit kejahatan.Kerana apa? Kerana kita tak tahu bila kita akan mati, entah jika tika itu kemungkaran mendekati perbutan dan jasad kita?wal i'ya zubillahi minzalik. Ya Kholiq...kami hambaMu ingin mati dalam addin suciMu ISLAM...amin.

POINT ke TIGA~

Firman Allah SWT bermaksud:

"Wahai orang orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tiidak kamu kerjakan" (Surah As-Saff :2-3)

Ana yang faqir tidak bisa menterjemah ayat ini, namun insyaAllah kita semua boleh faham akan maksudnya secara amnya. Betapa segala apa yang kita perkatakan mahupun apa yang kita lakukan akan Allah pertanggungjawabkan di akhirat kelak. Setakat manakah 'kebertanggungjawaban' kita atas segala kata kata kita? Ya Qawwi, ingatkan kami akan hal ini Ya Allah. Betapa kami butuhkan ingatan pinjaman dariMu akan hal hal ukhrawi Ya Aziz. Betapa perlunya kami menunjukkan qudwah hasanah sentiasa dalam kehidupan sementara di bumiMu ini, juga sebagai aset untuk melicini shoutul dakwah Islamiyyah..Moga kita juga sentiasa ingat akan qudwah Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW sentiasa benar dalam kata kata dan perbuatan Baginda, waima dalam hal bercanda(gurauan) sekalipun. Baginda Rasulullah SAW tidak mengatakan apa yang Baginda SAW tidak perbuat. Sama sama kita mencontohi akhlak Nabi Muhammad SAW,akhlaqul Quran. InsyaAllah...

Insafi diri kita dengan firman Allah SWT yang bermaksud:
"Dan mereka benar-benar akan memikul dosa2 mereka sendiri,dan dosa dosa yang lain yang bersama dosa mereka, dan pada hari kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yang selalu mereka ada-adakan."(Surah Al-Ankabut :13)


POINT ke EMPAT~



Sedikit tambahan untuk memotivasikan diri, KUATLAH menghadapi dugaan hidup ini kerana firman Allah SWT bermaksud:
"Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan,"Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji?" (Surah Al-Ankabut :2)


Alhamdulillah, dengan ujian dariNya kita bisa benar benar berharap dengan kesungguhan yang kuat utnuk apa yang kita butuh(perlukan). Bukankah begitu? Hikmah yang tersembunyi itu semestinya ada, insyaAllah. Bersangka baiklah pada Allahu Rabbi.

POINT KE LIMA~

Penting untuk kita sentiasa besikap qanaah, sentiasa meredhoi ketentuan Illahi Yang Maha Mengetahui. Pinta doa dari AllahU Rabbi Yang Maha Mendengar-sentiasa dan selamanya. Segala masalah,bak kata Kiyai A'a dalam ceramahnya 'Rawat Hatinya'di astro Oasis,
"kalau ada masalah,sakit di hati, bungkus semuanya..........serah pada Allah. Kembalikan pada yang memberi, mohon padaNya,bungkus ia dan pinta hanya padaNya yang Maha Tahu kerana datangnya segala itu daripada Allah. InsyaAllah hati akan terubat.."


Motivasi diri untuk ujian Allah swt, sekali lagi ana mengajak sahabat sahabiah, sama2 kita hayati firman Allah SWT bermaksud:
"Dan diantara manusia ada sebahagian yang berkata, "Kami beriman kepada Allah," tetapi apabila dia disakiti(kerana dia beriman) kepada Allah, dia menganggap cubaan manusia itu sebagai siksaan Allah. Dan jika datang pertolongan dari Tuhannya, nescaya mereka akan berkata, "sesungguhnya kami bersama kamu." Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada di dalam dada semua manusia?"





Kalam akhir untuk coretan AlFaqirah ini, Kuatkan hati, demi Allah SWT dan keredhoanNya juga demi ISLAM addinul Haq insyaAllah...terus bangkit belajar dan belajar dan terus belajar,dan beramal serta menyampaikannya insyaAllah.

Kurniakan kami magfirahMu, Taufiq dan HidayahMu dan Ilmu yang bermanfaat Ya Allahu Rabbi...Amin ya rabbal alamin ...

Allahua'lam. Minta penambahan sahabat2 ye, andai ada silapnya atau sebarang pandangan.syukran('',)

Wednesday, May 26, 2010

siri 4: Sifat-sifat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam


Tibalah kita di depan rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, kita ketuk pintu beliau untuk meminta izin. Marilah kita layangkan perhatian kepada sahabat yang melihat langsung Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia akan menceritakannya kepada kita seolah-olah kita melihat beliau shallallahu 'alaihi wasallam. Agar kita dapat mengenal ciri fisik beliau yang mulia serta wajah beliau yang penuh senyum.

Al-Bara' bin 'Azib radhiyallah 'anhu menuturkan:
"Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam adalah seorang yang sangat tampan wajahnya, sangat luhur budi pekertinya, beliau tidak terlalu jangkung dan tidak pula terlalu pendek." (HR. Al-Bukhari)

Masih dari Al Bara' radhiyallah 'anhu ia berkata:
"Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam memiliki dada yang bidang dan lebar, beliau Shalallaahu alaihi wasalam memiliki rambut yang terurai sampai ke cuping telinga (bagian bawah telinga), saya pernah menyaksikan beliau mengenakan pakaian berwarna merah, belum pernah saya melihat sesuatu yang lebih indah daripada itu." (HR. Al-Bukhari)

Abu Ishaq As-Sabi'i berkata:
"Seseorang pernah bertanya kepada Al-Bara' bin 'Azib radhiyallah 'anhu: "Apakah wajah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam lancip seperti sebilah pedang?" ia menjawab: "Tidak, bahkan bulat bagaikan rembulan!" (HR. Al-Bukhari)

Anas bin Malik radhiyallah 'anhu mengungkapkan:
"Belum pernah tanganku menyentuh kain sutra yang lebih lembut daripada telapak tangan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Dan belum pernah aku mencium wewa-ngian yang lebih harum daripada aroma Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam " (Muttafaq 'alaih)

Di antara sifat beliau adalah "pemalu", sampai-sampai Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallah 'anhu mengatakan:
"Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam itu lebih pemalu daripada gadis dalam pingitan. Jika beliau tidak menyukai sesuatu, niscaya kami dapat mengetahui ketidak sukaan beliau itu dari wajahnya." (HR. Al-Bukhari)

Demikianlah beberapa sifat dan budi pekerti Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Sungguh, ayah dan ibuku sebagai tebusannya! Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyempurnakan jasmani dan budi pekerti beliau Shalallaahu alaihi wasalam .


(dipetik daripada HTML bertajuk 'Sehari Di Kediaman Rasulullah saw' tulisan Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim.)

Sunday, May 23, 2010

Suntik Jiwa dengan Dos Qiamullail siri 1




Firman Allah SWT : "Hai orang yang berselimut(Muhammad). Bangunlah untuk solat pada malam hari, kecuali sedikit daripadanya. Iaitu seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit."(Surah Al- Muzammil:1-3)

Melalui ayat ini Allah SWT menjelaskan supaya kita hambaNya menunaikan solat Tahajud walaupun hanya satu rakaat dan itu sudah memadai daripada kita tidak menunaikan langsung. Sedarlah kita bahawa Bangun untuk menunaikan solat sunat di tengah malam ini merupakan sunnah Baginda Rasulullah saw, para sahabat dan ulama' besar. MasyaAllah...

Rasulullah saw sendiri tidak pernah meningglakan solat sunat Tahajud. Nabi saw bersabda: "Laksanakanlah solat malam, kerana solat malam itu merupakan kebiasaan bagi orang-orang soleh sebelum kamu, merupakan Qurbah(mendekatkan diri) kepada Rabbmu, merupakan keampunan bagi kesalahan- kesalahan dan pencegah daripada dosa."(Riwayat at-Tarmizi)

Betapa diberatkan solat malam ini dizaman para sahabat suatu masa dahulu, hasil tarbiyyah Baginda Rasulullah saw, sehingga para sahabat melakukannya setiap malam selama dua belas bulan MasyaAllah.... sehingga Allah menurunkan ayat al-Quran, yang memberikan kelonggaran tentang ibadah mulia ini.

Firman Allah SWT:
"Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui, bahawasanya engkau bangun (beribadat) kurang dari dua pertiga malam dan seperduanya dan sepertiganya dan orang-orang yang bersama denganmu."(al-Muzammil:20)

Begitu kasihnya Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad saw tidak mahu dijadikan tuntutan solat malam ini sebagai satu beban sebaliknya sebagai satu galakan, sebagai hadiah bagi hamba hambaNya yang ingin mencapai tahap keistimewaan, terpilih dalam kalangan yang dipilih di sisi Allah SWT.alhamdulillah...................


Allah SWT telah berfirman bahawa tiada solat lain yang lebih baik selepas solat lima waktu selain solat Tahajud. Ini menunjukkan bahawa solat Tahajud amat penting dalam diri hambaNya walaupun solat ini hukumnya sunat. "Dan dari malam itu hendaklah engkau bangun Tahajud sebagai nafilah (ibadat tambahan) bagimu, moga-moga Allah akan mengangkatmu ke tingkat yang terpuji."(Surah Al-Isra:79)


Nabi berkata bahawa ibadah malam yang dilakukan tanpa dilihat oleh seorang pun adalah ibadah yang paling mulia di sisi Allah. Orang tak nampak. Kita buat bukan kerana hendak orang tengok kita buat ibadah sunat. Saingan ibadah Tahajud ini adalah peperangan dengan gangguan nafsu dan syaitan yang ada dalam diri sahaja. Tidak ada gangguan manusia di sekeliling. Ini amalan rahsia antara kita dengan Allah. Amalan eksklusif. Ibadah ini membuktikan keikhlasan yang tinggi sebab tak ada paksaan daripada orang lain ke arah membentuk jiwa yang suci dan bersih. Demikian dijelaskan oleh Ustaz Mohd. Shukri Samsudin, merangkap Setiausaha Khas merangkap Pegawai Khas Menteri Besar Negeri Sembilan.

Ketika ditemubual tentang ibadah solat Tahajud ini berkata, "sebagai hamba Allah yang melaksanakan urusan duniawi, saya lebih suka menggunakan 'aktiviti luar waktu' daripada menggunakan perkataan 'overtime'(kerja lebih masa)

'Over time' bermaksud kerja yang dipaksa buat untuk mendapatkan pendapatan lebih, disuruh buat oleh ketua. Mahu tidak mahu mesti buat. Manakala aktiviti luar kerja bermaksud sukarela. Kita gembira nak buat. Saya cuba aplikasikan pendekatan ini melalui galakan Allah SWT kepada hamba-hambaNya dalam menunaikan ibadat Tahajud. tidak diwajibkan tetapi diberi pilihan bagi orang yang inginkan keistimewaan di sisi Allah berbanding solat lima waktu aktiviti wajib dalam waktu yang tertentu yang jika ditinggalkan berdosa besar.

Jadi, andai kita mahu menjadi manusia hebat di sisi Allah dan Rasul maka marilah kita pilih ibadah cara ini. Ibadah yang sangat makbul.."

Dalam siri seterusnya insyaAllah akan ana kongsikan pengalaman Ustaz Mohd Shukri dalam mempraktikkan qiamullail sejak di bangku sekolah lagi.

Sumber: Al-Quran dan terjemahan dan majalah anis

Monday, May 17, 2010

siri 3: Perjalanan yang menyenangkan

Perjalanan menuju rumah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam untuk melihat seluk beluk kehidupan dan tata krama pergaulan beliau merupakan perjalanan yang sangat diidamkan setiap orang. Terlebih lagi bila diniatkan untuk menggapai pahala di sisi Allah Subhannahu wa Ta'ala. Sebuah perjalanan yang sarat ibrah dan pelajaran, penuh teladan dan anutan. Yaitu perjalanan melalui kitab-kitab dan riwayat-riwayat dari lisan para sahabat Radhiallahu'anhu ;. Sebab, kita tidak dibolehkan melakukan perjalanan ke makam atau rumah beliau atau ke tempat-tempat lainnya selain ke tiga masjid, sebagaimana yang disebutkan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dalam hadits:

“Janganlah mengadakan perjalanan (secara khusus) ke-cuali ke tiga masjid, Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha.” (Muttafaq ‘alaih)

Kita wajib mentaati perintah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dengan tidak mengadakan perjalanan secara khusus kecuali ke tiga masjid tersebut. Bukankah Allah Subhannahu wa Ta'ala telah mengatakan,
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkan-lah.” (Al-Hasyr: 7)

Kita tidak boleh melakukan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah peninggalan Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam, Ibnu Wadhdhah berkata, “Umar telah memerintahkan untuk menebang pohon tempat Rasulullah dibai’at, sebab orang-orang banyak mengunjungi pohon tersebut untuk shalat di sana. Umar khawatir mereka terfitnah (tersesat jatuh ke dalam dosa syirik).” (Kisah tersebut dapat dilihat dalam Shahih Bukhari dan Muslim).

Ibnu Taimiyah memberikan komentar me-ngenai kunjungan ke gua Hira’: “Sebelum diangkat men-jadi rasul, beliau sering menyendiri untuk beribadah di sana. Dan di sanalah pertama sekali wahyu diturunkan kepada beliau. Akan tetapi setelah itu beliau tidak pernah sama sekali mengunjunginya bahkan tidak pernah mendekatinya. Demikian pula sahabat-sahabat beliau Shalallaahu alaihi wasalam. Beliau menetap di kota Makkah selama lebih kurang sepuluh tahun, namun tidak pernah sekalipun beliau mengunjunginya lagi atau mendaki ke atasnya. Demikian pula kaum mu’minin yang menetap bersama beliau di kota Makkah. Setelah beliau berhijrah ke Madinah, beliau berkali-kali memasuki kota Makkah, seperti pada saat menunaikan Umrah Hudaibiyah, saat penaklukan kota Makkah, di mana beliau berdiam selama dua puluh hari di sana, pada saat menunaikan Umrah Ji’ranah, namun beliau tidak pernah mendatangi gua Hira’ atau mengun-junginya…..” (Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah XXVII / hal. 251).

Sekarang kita akan mengunjungi Kota Al-Madinah An-Nabawiyyah, bangunannya mulai terlihat di hadapan kita. Itulah gunung Uhud, yang dikatakan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :

“Gunung ini mencintai kami dan kami pun mencintai-nya” (Muttafaq ‘alaih)

Sebelum memasuki kediaman Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , marilah kita lihat sejenak bentuk bangunannya. Janganlah terperanjat bila kita hanya menyaksikan sebuah bangunan kecil dengan tempat tidur yang sangat sederhana. Sebab Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam adalah seorang yang sangat zuhud terhadap dunia. Beliau Shalallaahu alaihi wasalam tidaklah menolehkan pandangan kepada kemewahan dan gemerlap harta benda dunia. Namun yang menjadi penyejuk mata hati beliau hanyalah ibadah shalat. (Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat An-Nasaa’i)

Beliau berkomentar tentang dunia sebagai berikut:

“Apa artinya dunia bagiku! Kehadiranku di dunia hanyalah bagaikan seorang pengelana yang tengah berjalan di panas terik matahari, lalu berteduh di bawah naungan pohon beberapa saat, kemudian segera meninggalkannya untuk kembali melanjutkan perjalanan.” (HR. At-Tirmidzi)

Sekarang kita sedang berjalan menuju kediaman beliau Shalallaahu alaihi wasalam seraya mengayunkan langkah di jalan-jalan kota Madinah. Itulah kamar-kamar istri beliau mulai tampak. Kamar sederhana yang dibangun dari pelepah kurma dan polesan tanah, sebagian lagi dengan batu yang ditata sedemikian rupa, sementara bagian atasnya dipayungi dengan atap dari pelepah kurma.

Al-Hasan mengisahkan kepada kita: “Aku pernah masuk ke dalam rumah-rumah istri Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam; pada masa khilafah Utsman bin ‘Affan Radhiallaahu anhu. Langit-langit rumah tersebut dapat aku jangkau dengan tanganku.” (Lihat Ath-Thabaqat Al-Kubra karangan Ibnu Sa’ad I/hal 499 & 501, lihat juga kitab As-Sirah An-Nabawiyyah II/hal 274 karangan Ibnu Katsir)

Sungguh kediaman beliau adalah rumah yang sangat sederhana dengan beberapa kamar yang kecil. Akan tetapi penuh dengan cahaya keimanan dan ketaatan, sarat dengan wahyu dan risalah ilahi.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...